BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan sastra Arab
dari masa ke masa tidak bisa lepas dari sejarah kehidupan bangsa
Arab. Yang mana dulu sastra timbul karena kerinduan orang Arab akan kedamaian
dalam hiruk-piruk kisruhnya peperangan. Islam telah menggoreskan sejarah
perubahan yang menyeluruh pada sistem kehidupan manusia, baik dari segi
spiritual, sosial, politik maupun sastra dan budaya, perubahan tersebut tidak
hanya terbatas bagi bangsa Arab saja, namun mencakup seluruh bangsa yang
tersentuh oleh dakwah islam, sehingga bangsa tersebut tersinari oleh cahaya dan
keutamaan iman.
Para ulama sastra Arab
membagi periode sastra Arab kedalam tujuh periode. Yaitu masa jahiliyah, masa
shadrul Islam, masa Umayah, masa Abbasiyah, Massa kemunduran, masa Andalusia,
dan masa kebangkitan modern[1].
Setiap priode,sastra Arab memiliki kekhususnan dan karakteristik
masing-masingyang membedakannyadengan periode-periode lainnya sesuai dengan
keadaan sosial dan politik yang berkembang saat itu[2].
Berkembang atau tidaknya dan kuat lemahnya sastra tergantung pada dua hal itu.
Banyak terjadi perbedaan
pendapat tentang periodisasi sastra Arab.Mayoritas tokoh sastrawan menggabung
masa sadr al-Islam dan Umayyah menjadi satu.Namun, karena
kedatangan Islam justru mengkritik sasta Jahili yang sebelumnya sudah mapan, maka masa
Sadr Islam ini lebih baik jika dipisah. Karena nanti kedatangan islam
akan menggeser posisi puisi dan lebih mengunggulkan prosa sebagai sarana dakwah
nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam.
B. B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud
dengan sastra ?
2. Bagaimana
perkembangan sastra pada masa Shadrul Islam ?
3. Bagaimana kondisi
bangsa Arab pada masa Shadrul Islam ?
4. Apa yang menjadi
factor pendorong sastra pada masa shadrul Islam ?
5. Bagaiman pengaruh
Islam terhadap perkembangan Sastra ?
6. Bagaimana
bentuk-bentuk sastra pada masa Shadrul Islam ?
7. Siapakah
tokoh-tokoh sastra/penyair terkenal pada masa Shadrul Islam ?
C. C. Tujuan
1. Untuk mengetahui
yang dimaksud dengan sastra.
2. Untuk mengetahui
perkembangan sastra pada masa Shadrul Islam.
3. Untuk mengetahui
kondisi bangsa Arab pada masa Shadrul Islam.
4. Untuk mengetahui
factor pendorong sastra pada masa Shadrul Islam.
5. Untuk mengetahui
pengaruh Islam terhadap perkembangan sastra.
6. Untuk mengetahui
bentuk-bentuk sastra pada masa Shadrul Islam.
7. Untuk mengetahui
tokoh-tokoh sastra pada masa Shadrul Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Definisi
sastra
Secara
etimologi, sastra dalam bahasa Inggris adalah literature (tulisan,
tata bahasa).
Dalam
bahasa Indonesia, sastra berasal dari kata sanskerta. Sas berarti
mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan tra berarti
sarana,alat. Artinya sastra adalah sarana untuk mengajar.
Dalam
bahasa Arab, sastra diartikan adab yang memiliki banyak
definisi :
Pada
masa jahili, kata adab dikalangan sastrawan tidak digunakan
untuk penyebutan istilah “sastra” tapi “undangan jamuan makan”.
Pada
masa Islam, kata adab dalam salah satu hadist nabi sebagai
berikut “أدبني ربي فأحسن تأديبي” mempunyai arti budi pekerti yang
luhur.
Makna
kata Adab juga bisa dibagi dua :
1) Makna Adab secara
umum : Berperilaku dengan akhlak karimah. Seperti jujur, dan amanat.
2) Makna
secara khusus : Ucapan yang indah, yang menyentuh (perasaan), dan memberi
pengaruh pada jiwa.
Jadi
bisa diambil kesimpulan bahwa sastra adalah sebuah bentuk karya seni yang
terdiri dari ucapan-ucapan yang indah, penuh imaginatif/khayalan yang mampu
menyentuh perasaan seseorang dan mampu memberi pengaruh pada jiwa seseorang.
B.
Sejarah perkembangan Adab/Sastra masa Shadrul Islam
1.
Sastra Arab masa Rasulullah
Pada masa Rasulullah SAW, karya sastra tertinggi pada masa
itu adalah Al-Qur’an dan Hadits.Dari segi kaidah kebahasaan, Al-qur’an memiliki
aturan-aturan terutama di bidang fonologis, morfologis, dan sintaksis yang
sangat valid dan solid.Hal ini berdampak pada segi bahasa dan keilmuan.Salah
satunya pengaruhnya dalam bidang sastra.
Al-qur’an berbentuk prosa, hal ini mengakibatkan orang-orang pada masa itu
sudah tidak lagi peduli pada puisi.Hal tersebut dikarenakan pesona prosa lebih
kuat daripada pesona puisi.Landasan yang memperkuat pernyataan ini adalah
QS.Asy-Syu’ara.
Di samping itu, Al-qur’an juga telah mengubah tema kesusastraan pada masa ini, dari
yang dulunya beraliran naturalis-realis yang berisi pujian yang berlebihan terhadap
wanita (porno), hujatan dan ratapan berganti menjadi puji-pujian terhadap Rasul
dan orang-orang sholeh dan tidak ada puisi ratapan lagi.
Dengan
kebangkitan Islam beberapa penyair bangsa Arab menyerang Al-Quran yang
dianggap sebagai hasil karya dari seorang penyair. Dari keunikan yang ada di
dalam al-Quran itulah, menyebabkan para penyair Arab Jahiliyah menuduh al-Quran
sebagai mantera “kahin” (Nabi Muhammad s.a.w. dituduh sebagai kahin).
Sebagian mereka menjuluki Nabi Muhammad sebagai penyair karena adanya rhytem prosa
digunakan di dalam al-Qur’an, seperti dalam surat as-Shu’ara (penyair-penyair)
ayat 224-227 yaitu:
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang
sesat”.
“Tidaklah kamu melihat bahwasannya mereka mengembara di
tiap-tiap lembah”.
“Dan
bahwasannya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak
mengerjakannya”.
“Kecuali
orang-orang (para penyair) yang beriman dan beramal sholeh dan banyak menyebut
Allah dan mendapat kemenangan setelah menderita kezaliman.Dan orang-orang zalim
itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”.
Pada periode ini muncul jenis syair baru yaitu syair dakwah islamiyah, syair
pembangkit semangat juang, syair untuk mengingat kebaikan para syuhada serta
pendeskripsian alat-alat perang.Para periode ini pula jenis-jenis syair yang
telah ada sejak zaman Jahiliyah semakin diperkuat dengan ruh islami.
Contoh Syair Pada periode ini:
· Hassan bin Sabit menantang kaum musyrikin sebelum Fatkhul
Makkah
Kaum Quraisy membuat kesepakatan damai salama sepuluh tahun
dengan Nabi pada tahun ke 6 Hijriah, akan tetapi mereka mengkhianati perjanjian
tersebut, maka Rasulullah pun menyiapkan bala tentara untuk memerangi kaum
musyrikin Quraisy dan membuka kota Mekkah.
Pada syair berikut ini Hassan bin Sabit menggambarkan
persiapan pasukan kaum muslimin dalam rangka menghadapi musuh mereka dengan
memuji Rasulullah dan para sahabatnya serta mencela dan menantang musuh mereka,
Ia berkata :
عـدمـنا خـيـلـنا إن لـم تروها تـثــيرالـنـقـع ـموعـدها
كـدا
فــإمـا تعــرض عـنا اعتمرنا و
كان الفتح وانكشف الغطاء
وإلا فــاصبـروا لـجـلاد يـوم
يـعـيـن الله فـيـه مــن يــشـاء
وجـبـريـل رســول الـله فيـنا
وروح الـقـدس لـيـس له كفاء
وقــال الله قـد أرسـلـت عـبدا
يـقـول الـحـق إن نـفـع الـبلاء
شهـد ت بـه فـقومـوا صدقوه
فــقـلـتـم لا نــقـوم ولا نـشــاء
وقــال الله قـد ســيرت جـنـدا
هـم الأنـصـار عرضتها اللقاء
Kami akan musnahkan kuda-kuda kami
jika kalian tidak melihatnya menghempaskan debu menuju Kada’
Walaupun kalian menghalangi jalan kami, kami akan tetap berumroh
dan membuka kota Mekkah hingga tersingkaplah kebenaran
Namun jika kalian tetap menghalangi maka bersabarlah terhadap hari yang ganas
dan Allah selalu menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya
Jibril Sang Utusan Allah selalu bersama kami
dan Ruhul Qudus takkan ada yang menandinginya
Allah berkata bahwa ia telah mengirimkan utusan-Nya
demi menyampaikan kebenaran bagi siapa yang membutuhkannnya
Aku disini bersaksi atas kerasulannya maka mari berdiri dan bersaksilah
namun kalian mengatakan “kami tidak akan berdiri dan tak mau bersaksi”
Allah telah berkata bahwa ia telah mengirimkan pasukan
mereka adalah kaum Anshar yang kepiawaiannya bertempur[3]
Para ahli sastra menetapkan Rasulullah SAW sebagai sastrawan tertinggi di masa
Shadrul islam karena mukjizat Al-qur’an dan hadist. Sedangkan peringkat kedua
diduduki oleh ali bin Abi Thalib (hasan zayyad) dengankarya yang dibukukan dengan
judul nahjul Balaghoh oleh Syarif Radli. Namun, pada masa Rasulullah SAW.
Hadist nabi belum dibukukan karena pada masa itu masih fokus dalam pembukuan
Al-qur’an, jadi takut akan adanya kerancuan dalam pembukuan keduanya.
2. Sastra Arab masa
Khulafa’ur Rasyidin
Pada periode ini kedudukan syair mulai tergantikan oleh khutbah dikarenakan
beberapa hal, antara lain :
· Semangat untuk menyebarkan cahaya islam dengan dakwah dan
jihad.
· Pengaruh Al-Qur’an dan Hadits terhadap kefasihan sastra
arab.
· Berkembangnya diskusi antar masyarakat dalam berbagai
pembahasan baik sosial-politik pendidikan dan sebagainya.
· Penjelasan kebijakan politik dan hukum para khalifah.
Seperti Khutbah Abu Bakar Ash-Siddiq Ketika Diangkat
Sebagai Khalifah :
Sesaat setelah Meninggalnya Rasulullah SAW, kaum muslimin memilih Abu Bakar RA.
sebagai pemimpin mereka karena berbagai keutamaan yang ada padanya, ia adalah
lelaki pertama yang beriman kepada Rasulullah, teman beliau didalam gua tsaur
dan teman setia beliau ketika berhijrah ke Mekkah, Rasulullah juga pernah
memerintahkannya untuk menjadi imam menggantikan beliau ketika beliau sakit.
Namun pengamat sastra pada umumnya menyatakan ada dua
pendapat tentang perkembangan sastra masa Khulafa al-Rasyidin :
1. Sastra mengalami stagnasi karena perhatian yang lebih
kepada bahasa al-Qur’an, sehingga syair dan sastra kurang berkembang.
2. Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi untuk kegiatan
sastra, karena dalam berdakwah diperlukan bahasa yang indah. Pengaruh Qur’an
dan Hadis tidak bisa dilepaskan karena keduanya menjadi sumber pokok ajaran
Islam.
Secara khusus dijelaskan bahwa puisi pada masa tersebut
tidak jauh dari puisi pada masa Rasul, yang juga tidak jauh berbeda dengan masa
sebelumnya (Jahiliyah).Maksudnya bahwa puisi kurang majudan berkembang kerena
lebih memperhatikan al-Qur’an, sehingga aroma struktural kata dalam puisi
sangat terpengaruh oleh al-Qur’an.Prosa tertuang dalam 2 bentuk yaitu Khithabah
( bahasa pidato) dan kitabah (bahasa korespondensi).
Khithabah menjadi alat yang paling efektif untuk berdakwah
mengalami kesempurnaannya karena pengaruh al-Qur’an.Ruhnya khitabah adalah
Rasul dan para khalifah, mereka adalah pemimpin yang sekaligus sastrawan,
mereka sangat baligh dan fasih dalam berkhotbah. Ahli pidato yang sangat
terkenal adalah Ali ibn Abi Thalib, khutbahnya dikumpulkan dalam kitab ”Nahj
al-Balaghah” Tentang Kitabah tidak mengalami kemajuan sepesat khithabah
meskipun di dalamnya banyak didapatkan nilai-nilai sastra.
Para
penyair dua masa yaitu pra Islam dan masa Islam disebut Mukhadhram”, seperti
Hasan ibn Tsabit dan Kaab ibn Zuhair. Hasan ibn Tsabir adalah penyair rumah
tangga Rasul, ia selalu mengubah syair-syair untuk membela Islam dan memuliakan
Rasulnya.
C. Kondisi
bangsa Arab pada masa permulaan Islam
·
Agama : multiagama (Jahili, Majusi, Nasrani, Yahudi, dll),
kemudian sebagian besar masuk Islam (muhammadinisme).
·
Politik : bergesernya dari bentuk sukuisme, menjadi
negara (Madinah dan khalifah),sehingga banyak terjadi
konflik&kepentingan, terutama setelah Nabi Wafat. Suku Qurasiy sebagai suku
tertinggi.Secara ekternal diapit oleh kekuasaan Romawi dan Persi.
·
Sosial : ‘Arab (kota, kaya) dan A’rab (desa,
miskin), negara sebagai panglima Hukum.
·
Ekonomi : perdagangan mata pencaharian utama, negara
mengelola keuangan, transaksi dengan uang (nonbarter), sehingga
masyarakat cenderung mulai “sejahtera”, ada monopoli suku tetentu terhadap
kekayaan alam, oase, sumur, rumpu, sumber mata air.
·
Geografis : di samping daerah Utama: Yaman, Najed, Hejaz,
wilayah Mesir, Syiria dan Irak menjadi bagian Arab-Islam
·
Ilmu dan Pengetahuan : disiplin “pengetahuan”
bermunculan, yang diinspirasi oleh Ajaran Agama, terutama al-Qur’an dan Hadis
seperti Qira’at, nahwu, musyawarah (demokrasi islam), politik, ekonomi,
administrasi negara, dll.
D. Faktor
pendorong sastra pada permulaan Islam
Pada
masa permulaan Islam, posisi puisi tergeserkan oleh prosa, Karena prosa
digunakan nabi Muhammad sebagai alat untuk berdakwah. Adapun faktor-faktor
pendorong sastra adalah sebagai berikut :
·
Adanya sastra Jahili yang sudah mapan, sehingga tinggal mengembangkan
saja.
·
Datangnya agama Islam, yang membawa Al-Qur’an dan hadis baik
dari lafal maupun makna/ isi keduanya.
·
Nabi Muhammad sebagai agen yang “membelokkan” puisi
Jahili dengan puisi Islam sebagai media untuk politik dakwah.
·
Perluasan wilayah islam.
·
Adanya embrio Rasionalisme.
·
“Luntur”nya fanatisme kesukuan, akibat dari dominasi negara Madinah.
·
Keadaan ekonomi-politik yang “stabil”.
·
Sudah ada “kementerian” yang mengatur kehidupan masyarakat.
·
Adanya kontak bahasa dengan budaya lain, terutama bahasa dan sastra.
E. Pengaruh
Islam terhadap sastra Arab
Islam
datang membawa pengaruh yang besar terhadap kemajuan bangsa arab diberbagai
aspek baik agama, ekonomi politik seni dan budaya maupun keadaan sosial bangsa
Arab sendiri. Islam lahir pada awal abad VII Masehi yang dirisalahkan oleh Nabi
Muhammad SAW.
Pra
Islam datang, mayoritas kehidupan bangsa Arab ialah penganut berhala. Namun,
setelah islam datang semangat persaudaraan dan nilai-nilai ukhuwwah
diperkenalkan sengan mengusung persatuan.[4]
Menurut
Al Muhdhar dan Arifin, perubahan yang timbul dalam kesusastraan Arab Jahilyyah
sesudah lahirnya agama Islam disimpulkan menjadi tiga hal:[5]
1) Penghapusan
sebagian corak kesusastraan Arab Jahiliyyah.
2) Menciptakan
suatu corak baru yang sesuai dengan Islam
3) Mengembangkan
sebagian corak lama yang sesuai dengan Islam
Corak
baru yang dibawa Islam ialah timbulnya macam-macam cabang tata peraturan dan
undang-undang baik dalam syari’at Islam maupun di bidang bahasa sendiri
seperti timbulnya Ilmu Balaghah, Ilmu Nahwu, dan Ilmu Arudh, dsb.Sedangkan
corak yang dihapus oleh Islam yaitu puisi-puisi yang berupa mantra yang
digunakan oleh dukun.
Namun,
ada juga corak yang lama dan dikembangkan oleh Islam yakni di bidang sya’ir dan
khutbah, karena keduanya sangat berkontribusi dalam membantu perluasan dakwah
Islam kepada sekalian bangsa Arab, karena bangsa arab sangat senang dengan
kedua corak ini.
Selain
faktor-faktor tiga hal tadi, masih ada beberapa pengaruh yang dibawa oleh Islam
terhadao kesusastraan Arab, diantaranya ialah sbb;
1. Penyair-Penyair
Jahiliyyah Memeluk Agama Islam
Ketika
Islam datang dengan risalah yang dibawakan oleh Rasulullah SAW.Banyak
penyair-penyair ternama Jahiliyyah yang memeluk agama Islam, karena keyakinan
yang bulat dan bahkan menjadi pembela Rasul yang setia. Di antara penyair
tersebut ialah ;
- Hasan
bin Tsabit, dia merupakan penyair yang sangat termasyhur pada zaman
Rasulullah. Isi dan gaya sya’irnya berbeda sekali sebelum ia memeluk agama
Islam. Datangnya Islam telah banyak mempengaruhi dan menginspirasi baru ke
dalam sya’ir-sya’irnya.Sehingga, berbeda tema puisi-puisinya antara sebelum ia
masuk Islam dan sesudah ia masuk Islam. Adapun puisi ketika ia belum masuk
Islam ialah madah, fakhr, hija’ danghazal , sedangkan
tema puisi setelah masu Islam ialahmadah, hija’, ritsa, dan i’tidzar.[6] Adapun
contoh salah satu syairnya ialah :
و أحسن منك لم تركت
عيني * و أجمل منك لم تلد
النساء
Yang
lebih bagus dari padamu, tiada pernah mataku melihat.
Yang
lebih cantik dari padamu tiada pernah dilahirkan wanita.[7]
- Ka’ab
bin Zuhayr, tema puisi pada masa jahilyyah yaitufakhr, hija’, dan ghazal serta
wasf.Adapun pada permulaan islam puisinya bertemakan madah, hija’,
ghazal, himat dan nasehat.
- Hutay’ah,
pada dasarnya tema-tema puisi beliau antara pra islam dan sesudah islam itu
sama, yakni hija’, madah, ghazal, wasf, hanya saja pada Zaman
Permulaan Islam ditambah dengan tema isti’thaf dan i’tidzar.
2. Semakin
Meluas Perbendaharaan Bahasa Arab
Seperti
yang kita ketahui, bahwasnya bahasa Arab itu adalah alat komunikasi yang
dipakai oleh muslim. Sempit dan luasnya perbendaharaan bahasa itu
tergantung pada luasnya pengalaman si pemakai bahasa tersebut. Jika
si pemakai bahasa itu sangat luas pengalamannya maka bahasanyapun ikut
bertambah perbendaharaan kata-katanya.Dan terbukti pada bahasa Arab, dulu pada
masa Jahiliyyah bahasa Arab sangatlah terbatas pemakainnya hanya pada kehidupan
sehari-hari saja. Nemun, setelah Islam berkembang maka
pemakainnya juga makin bertambah. Sebab dalam islam terdapat syari’at-syari’at
seperti shalat. Puasa, haji, dan sebagainya yang semuanya itu bisa
menambahluaskan perbendaharaan bahasa Arab.[8]
3. Bahasa
Arab Bertambah Halus
Jika
kita amati keberadan bahasa Arab pada masa Jahiliyyah, itu sangat berbeda
dengan ketika Islam datang. Bahasa Arab pada masa jahiliyyah itu sangatlah
kasar, karena pada dasarnya watak dan tabiat bangsa Arab itu keras terutama
pada masa Jahiliyyah.
Tapi
setelah islam lahir, mereka telah banyak mengambil tata cara penyusunan kalimat
dalam kitab suci al-Qur’an yang telah diakui kehalusan kalimatnya dan ketinggian
sastranya. Selain itu seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an
itu sendiri sangat agung.Sehingga mereka banyak yang mengaguminya walaupun
mereka itu tidak mau mengikuti ajarannya.[9]
4. Perubahan
Tema-tema Karya Sastra Arab
Tema-tema
karya sastra pada zaman Islam megalami perubahan dari zaman sebelumnya, yaitu
zaman Jahiliyyah, pada zaman jahiliyyah para penyair membuat puisi dengan
berbagai tema, sperti ; madah, hija’ fakhr, hamasah , ghazal, i’tidzar,
ritsa, dan washf. Dengan datangya Agama Islam tentu saja tema tersebut
berubah dikarenakan situasi mereka juga berbeda.
Tema-tema
Zaman Jahiliyyah ada juga yang masih dipakai pada zaman Permulaan Islam,
seperti;
·
Al-Washf, tapi deskripsinya tidak lagi menggambarkan
tentang minuman keras, judi, tempat-tempat minum, melainkan segala sesuatu yang
termasuk dalam kategori yang dhiaramkan.
·
Alghazal, tidak mendeskripsikan hal yang negatif,
melainkan dari segi akhlak yang mulia.
·
Al-fakhr, tidak menggambarkan kebanggan terhadap
keturunan.
·
Al-madahu, bukan pujian-pujian yang berlebihan.
·
Al-hija’, bukan cemoohan yang jelek dan yang
menyebarkan permusuhan dalam masyarakat.
Selain
yang diatas ada juga tema yang lebih banyak digunakan pada permulaan Islam.
Yakni tema Ritsa, yaitu ratapan tehadap para syuhada
yang wafat dalam perjuangan menyebarkan agama Islam. Adapun tema baru yang
dimunculkan pada permulaan Islam ialah tema dakwah Islam.Yang menggambarkan
tentang Agama Islam, Nabi, Shahabat, Khalifah, akhlak, jihad, dll.
Adapun
dari segi prosa, pada zaman Jahiliyyah ada 6 jenis prosa, yaitu Khutbah,
Wasiat, Hikmat, dan Matsal, Qishah, dan Saj’u kuhhan. Sedangkan pada
masa Islam ini hanya ada 2 yang disebut, yaitu khuthbah dan kitabat rasail.
5.Bertambah
Tinggi Nilai-nilai Sastranya
Bangsa
arab zaman Jahiliyyah sangat mendambakan ketinggian nilai sastra , sebab mereka
mempunyai gairah sangat besar sekali terhadap yang dihasilkan oleh seorang
penyair.merka selalu mengadakn perlombaan syair pada setiap tahun untuk
menentukan syair siapakah yag paling baik nilai sastranya pada tahun itu.
Untuk
mengalahkan keahlian mereka, dan menghindari mereka dari kesombongan sengaja
Allah menurunkan mukjizat-Nya berupa Al-Qur’an sebagai standar bahasa. Adapun
maksud kemukjizatan Al-Qur’an bukan berarti melemahkan manusia, akan tetapi
untuk menjelaskan kepada manusia akan kebenaran kitab Al-Qur’an dan Rasul yang
membawanya adalah Rasul yang benar.
Salah
satu petikan keagungan Al-Qur’an dapat dilihat dalam firman-Nya yang artinya
: Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk
membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang
serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian
yang lain."[10]
F. Bentuk-bentuk
sastra pada masa permulaan Islam
Seperti
yang telah pemakalah jelaskan diatas, bahwa prosa pada masa permulaan islam ini
mengalami perkembanagn yang pesat, sehingga menggeser posisi puisi. Adapun
bentuk-bentuk prosa adalah sebagai berikut :
1. Khutbah
(pidato)
Pada
periode ini kedudukan syair mulai tergantikan oleh khutbah dikarenakan beberapa
hal, antara lain :
·
Semangat untuk menyebarkan cahaya islam dengan dakwah dan jihad.
·
Pengaruh Al-Qur’an dan Hadits terhadap kefasihan sastra arab.
·
Berkembangnya diskusi antar masyarakat dalam berbagai pembahasan baik
sosial-politik pendidikan dan sebagainya.
·
Penjelasan kebijakan politik dan hukum para khalifah.
Contoh
Khutbah Pada periode ini:
Khutbah
Abu Bakar Ash-Siddiq Ketika Diangkat Sebagai Khalifah :
Sesaat setelah Meninggalnya Rasulullah SAW, kaum muslimin memilih Abu Bakar RA.
sebagai pemimpin mereka karena berbagai keutamaan yang ada padanya, ia adalah
lelaki pertama yang beriman kepada Rasulullah, teman beliau didalam gua tsaur
dan teman setia beliau ketika berhijrah ke Mekkah, Rasulullah juga pernah
memerintahkannya untuk menjadi imam menggantikan beliau ketika beliau sakit.
Ketika
diangkat sebagai Khalifah beliau berkhutbah kepada sekalian kaum muslimin
dengan terlebih dahulu memuji Allah dan berkata :
يا أيها الناس، إني قد وليت عليكم ولست بخيركم، فإن رأيتمني على حق
فأعينوني ,وإن رأيتموني على باطل فسددوني , أطيعوني ما أطعت الله فيكم , فإذا
عصيته فلا طاعة لي عليكم , ألا إن أقواكم عندي الضعيف , حتى آخذ الحق له , و
أضعفكم عندي القوي حت آخذ الحق منه.
أقول قولي هذا، و أستغفر الله لي ولكم
“Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya aku sekarang telah memimpin kalian, namun aku
bukanlah yang terbaik diantara kalian, jika kalian melihatku berjalan diatas
kebenaran maka bantulah aku, sedangkan jika kalian melihatku diatas kebatilan
maka luruskanlah langkahku, taatilah aku selama aku mentaati Allah, dan apabila
aku melakukan sebuah kemaksiatan maka kalian tidak boleh taat terhadapku akan
hal itu, ketahuilah, Bahwasanya orang yang paling kuat diantara kalian dimataku
adalah orang yang lemah hingga ia memperoleh haknya, sebaliknya orang yang
terlemah dimataku adalah orang yang kalian anggap paling kuat hingga ia
mengembalikan hak-hak orang lain. Demikianlah apa yang aku sampaikan kepada
kalian seraya memohon ampun atas diriku dan kalian semua kepada Allah SWT.
2. Kitabah
atau Surat
Pada periode ini
Kegiatan surat menyurat mulai berkembang dalam rangka dakwah islamiyah,
pengaturan hukum dan kebijakan politik pemerintahan islam serta penulisan
piagam perdamaian antar negri.
Contoh Surat
Rasulullah kepada Khalid bin Walid :
Semenjak
Allah memerintahkan Beliau untuk berdakwah kejalan Allah, Beliau begitu
bersungguh-sungguh dalam upaya menyebarkan cahaya Islam dan mengajak manusia
kembali kepada tauhid.Beliau tak pernah lelah dalam mendakwahi manusia kejalan
Allah dengan penuh kebijaksanaan, nasihat yang baik dan akhlak yang terpuji.
Diantara
kabilah Arab yang didakwahi oleh Beliau adalah kabilah Bani Al-Harits bin Ka’b,
Beliau pun mengutus Khalid bin Walid untuk mengajak mereka kepada Islam. Sampai
akhirnya Khalid bin Walid mengirimkan surat kepada Rasulullah bahwa kabilah
tersebut menerima dakwah Islam. Rasulullah membalas surat tersebut
memerintahkan Khalid bin Walid untuk kembali bersama utusan dari mereka untuk
pembelajaran tentang keislaman Dalam suratnya Beliau berkata :
بـسم الله الرحمن
الرحيم : من محمد النبي رسول الله إلى خالد بن الوليد , سلام عليك , فإ ني أحمد
إليك الله الذي لا إله إلا هو.
أما بعد : فإن كتابك جاءني مع رسو لك تخبر أن بني الحارث بن كعب قد أسلموا قبل
أن تقاتلهم , وأجابوا إلى ما
دعوتهم إليه من الإسلام , وشهدوا أن لا إله إلا الله , وأن محمدا عبدالله ورسوله ,
فبشرهم وأنذرهم , وأقبل واليقبل معك وفدهم ،
والسلام عليكم
ورحمةالله وبركاته
“Dengan
menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad sang
Nabi utusan Allah, semoga keselamatan selalu bersamamu, Aku panjatkan puji
kepada Allah untukmu. Amma ba’du : Telah sampai kepadaku surat yang engkau
kirimkan bersama utusanmu, menjelaskan bahwa kabilah Bani Al-Harits bin Ka’b
telah masuk islam dengan damai tanpai terjadi pertempuran, mereka telah
mengikuti apa-apa yang engkau dakwahkan dari Agama ini, mereka bersaksi bahwa
tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba
dan utusan Allah, maka berilah kabar gembira atas keislaman mereka dan berilah
mereka peringatan, dan kembalilah engkau wahai Khalid bersama utusan dari
kabilah tersebut. Semoga keselamatan, rahmat serta barakah senantiasa Allah
limpahkan kepadamu.
G. Tokoh-tokoh
sastra pada masa permulaan Islam
1.
Hassan bin Tsabit
Hasan
Bin Tsabit adalah seorang sahabat Rasulullah saw. Dalam sejarah, Hasan Bin
Tsabit tidak terlibat di medan perang, tapi beliau berjihad dengan lisan atau
tulisan. Nabi saw ridha kepadanya dan
malaikat Jibril pun mendukungnya. Syair syair
Hasan Bin Tsabit membangkitkan semangat juang
para mujahid.
Rasulullah
menempatkan beliau sesuai dengan kapasitas dan
potensinya. Syair- syair yang ditulisnya itu termasuk bagian dari jihad
yang dilakukan olehnya, yang bias dikatakan sebagai sarana
jihad. Rasulullah mengangkat Hasan Bin Tsabit
secara resmi sebagai penyair Islam.
Rasulullah
saw seringkali memuji karya-karya Hassan bin Tsabit. Karena dengan
syairnya, Hassan membela Rasulullah saw dan
menangkis hinaan dan celaan orang-orang Quraisy. Ketika orang orang
Quraisy melantunkan syair yang bernada penghinaan terhadap Rasulullah maka
Hasan Bin Tsabit tampil membuat syair balasan. Bagi orang-orang Quraisy sendiri
syair Hassan ibarat tombak yang merobek jantung,membuka tabir
aib dan cacat mereka sehingga mereka pun
terdiam membisu tidak mampu mebuat syair tandingannya.
Hassan
bin Tsabit al-Anshari merupakan seorang sahabat
yang berumur panjang, setengah umurnya dia
habiskan pada masa jahiliyah dan setengah
lagi dia jalani bersama Islam. Hassan adalah salah
seorang penyair Arab papan atas pada masanya,
setelah dia masuk Islam dia menggunakan
syairnya untuk kepentingan Islam dan membela Rasulullah saw dari celaan
musuh-musuh beliau, sampai-sampai beliau bersabda, “Balaslah
hinaan mereka, ya Allah dukunglah dia dengan Ruhul
Qudus.” Hassan wafat tahun 54 H. Berikut ini
dalah puisi Hasan Ibn Tsabit setelah masuk Islam adalah sebagia berikut:
إن
الذوائب من فهر
وإخوتهم قد
بينوا سننا للناس تتبع
يرض
يها كل من كانت
سريرته تقوى
الإ له و بالأمر الذى شرعوا
قوم
إذا حاربوا ضروا
عدوهم أو
حاولو النفع فى أشيا عهم نفعوا
Sesungguhnya penghulu itu hanya dari suku fihr dengan
saudara-saudaranya.Yang telah menerengkan kepada manusia suatu agama agar untuk
diikutinya.Yaitu disenangi oleh setiap orang yang hatinya bertakwa kepada Tuhan
dan mengikuti syariatnya. Kaum itu jika berperang akan membinasakan musuh-musuh
atau berusaha memanfaatkan keikut sertaannya tanpa dijelaskan.
2. Ka’ab Ibnu Malik Al-Anshari
Nama
lengkapnya adalah Amru Ibnu At-Taqin Ibnu Ka’ab Ibnu Suwad Ibn Ghanam Ibnu
Ka’ab Ibnu Salamah Al-Anshari. Dia dijuluki Abu Abdullah, Abu Abdur
Rahman, Abu Muhammad Dan Abu Basyir.
Contoh
puisinya yang bercerita tentang suasana perang,
Ini puisi Ka’ab ketika
ia menyaksikan kejadian di Bi’ru Ma’unah :
تركتم جاركم لبني سالم # مخافة حربهوا عجزا وهونا
فلو حبلا تناول من عقيل # لمد بحبلها حبلا متينا
أو القرطاء ما إن أسلموا # وقدما ما وفوا إذ لا تفون
“Karena
meninggalkan tetanggamu bani salim, karena yakut akan perang yang melemahkan
dan menghinakan.Walau tali melilit para pemimpin untuk mengulurkan tangan yang
kuat.Atau qirtha’ bila tidak masuk islam dan mengajukan suatu kelengkapan
apabila tidak datang”.
3. Abdullah
bin Rawalah
Nama
lengkapnya adalah Abdullah ibn Rawalah Ibnu Tsa’labah Ibnu Amrul Qais Al-Qibqsi
Al-Akbar Ibnu Malik Al-Aghra Ibnu Tsa’labah Ibnu Ka’ab Ibnu Khazraj Ibnu
Al-Harits Ibnu Khazraj Al-Anshari Al-Khazraji.
لا كني اسال الرحمن مغفرة # وضربة ذات فزع تقذف الزبدا
بحربة تنفذ الأحشاء والكبدا # أو طعنة بيدي حران مجهزة
يا أرشاد الله من فاز وقد رشدا # حتى يقولوا إذا مروا على جدث
“Akan
tetapi aku memohon ampunan kepada dzat yang maha pengasih, untuk melenyapkan
rasa ketakutan yang berlebih bagaikan buih.Atau tikaman dengan tanganku yang
ingin menembus isi perut dan hati.Hingga jika ada yang melewati makamku. Mereka
akan berkata : wahai orang yang mencari petunjuk, barang siapa yang menang,
maka ia benar-benar telah mendapatkan petunjuk”.
4. Al-Hutay’ah
Nama
lengkapnya adalah jamal ibnu malikah, salah seorang penyair al-mukhadramin,
yaitu mereka yang mengenal masa jahiliyan dan islam. Dia bertubuh pendek,
sehingga dijuluki Al-Hutay’ah (seorang
laki-laki yang pendek).
Berikut ini adalah puisi Al-Hutay’ah yang menggambarkan
tentang zuhud di dunia dan harapan kebaikan di akhirat nanti:
ولست
أرى السعادة جمع
مال ولكن
التقي هو السعيد
وعند
الله للاتقى
مزيد وتقوى
الله خير الزا د ذخرا
و ما
لا بد يأتي,
قريب ولكن
الذي يمضي بعيدا
Aku bukannya melihat kebahagiaannya dengan semua harta,
akan tetapi taqwa adalah sebenar-benarnya kebahagiaaannya. Taqwa pada Allah
adalah sebaik-baiknya bekal dan harta, dan di sisi Allahlah bagi orang-orang
yang bertaqwa suatu tambahan.Apa yang akan terjadi berarti dekat dan apa yang
telah terjadi berarti jauh.
5.
Khansa
Khansa
anak dari Amru bin Kharis Syarif Syarid. Dari Bani Sulaim dari Qais Ilan.
Khansa adalah penyair terkenal dari arab dan
syairnya kebanyakan tentang pembebasan. Dia dari
Najed. Dia banyak menghabiskan sebagian umurnya
pada Jahiliyah. Namun ketika mengetahui islam
dia masuk islam. Dia mengunjungi rasulullah
bersama kaumya Bani Sulaim. Dan Rasulullah
ta’jub/kagum dengan syairnya.
Kebanyakan
dari syairnya berisi tentang kematian saudara
laki-lakinya yang tewas dalam pertempuran pada masa Jahiliyah. Dia mempunyai
Diwan syair yang didalamnya terdapat arsip syairnya.Dia memiliki empat anak
laki-laki yang telah mati syahid pada peperangan Kodisiyah.
Contoh
syair untuk saudaranya Shokhra :
أَلاَ تَبْكِيَانِ
لِصَخْرَ النَّدَى
أَعَيَنَّيَ جُوْدَا وَلَتَجْمِدًا
أَلَا تَبْكِيَانِ
الفَتَى السَيِّدَ
أَلاَ تَبْكِيَانِ
الجَرِيْئَ الجَمَيْلَ
سَادَ عَشيْرَتُهُ
أَمْرَدَا
إِذَالقَوْمُ
مَدُّوا بِأَيْدِيْهَمِ
مِنَ المَجِدِ ثُمَّ
مَضَى مُصْعِدًا
فَنَالَ الَّذي فَوْقَ أَيْدِهِمِ
وَإِنْ كَانَ
أَصْغَرَهُمْ مَوْلِدَا
يُكَلِّفْهُ القَوْمَ مَا عَالُهُمْ
يَرَى أَفْضَلَ
الكَسْبِ أَنْ يُحَمَدَا
تَرَى المِجَدَ يَهْوَي إِلَى بَيْتِهِ
تَأَزَّرَبِالمَجِدِ
ثُمَّ إِرْتَدَى
وَإِنْ ذُكِرَ المِجِدُ أَلْفَيْتَهُ
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
·
Sastra adalah sebuah bentuk karya seni yang terdiri dari ucapan-ucapan
yang indah, penuh imaginatif/khayalan yang mampu menyentuh perasaan seseorang
dan mampu memberi pengaruh pada jiwa seseorang.
·
Perkembangan sastra Arab pada masa sadr Islam dimulai
dari masa kenabian sampai berakhirnya khulafaurrasyidin (1-38H,
622-660M).
·
Pengaruh Islam terhadap sastra Arab :
1.
Penyair-Penyair Jahiliyyah Memeluk Agama Islam
2.
Semakin Meluas Perbendaharaan Bahasa Arab
3.
Bahasa Arab Bertambah Halus
4.
Perubahan Tema-tema Karya Sastra Arab
5.
Bertambah Tinggi Nilai-nilai Sastranya
·
Bentuk-bentuk sastra pada masa permulaan Islam
1.
Khutbah (pidato)
2.
Kitabah atau Surat
·
Tokoh-tokoh sastra pada masa permulaan Islam
1.
Hassan bin Tsabit
2.Ka’ab
Ibnu Malik Al-Anshari
3.
Abdullah bin Rawalah
4.
Al-Hutay’ah
5.
Khansa
DAFTAR
PUSTAKA
·
Dha’if, Syauqi, Tarikh al-Adab al-Arabi fi Asri
al-Islami,(Darul Ma’arif)
·
Ali Muhinna, Abda’, Diwan Hassan Ibn Tsabit Al-Anshari,(Lebanon:Darul
Kutub Al-Ilmiyyah, 1994)
·
Wargadinata, Wildana dan Fitriani, Laily Sastra Arab Dan Lintas
Budaya, (Malang:UIN Malang press, 2008),
·
http://himasaunpad.blogspot.com/2010/07/sejarah-perkembangan-sastra-arab-masa.html
·
http://www.acehforum.or.id/showthread.php?t=7794&pagenumber=
·
http://www.scribd.com/doc/31552799/Pengertian-Sastra-Menurut-Para-Ahli
·
Power point 5 Khabibi Muhammad Luthfi dalam mata kuliah tarikh adab
·
Khairawati, dalam PDF Pengaruh Islam Terhadap Kesustraan Arab.
[8]Yunus Ali Al Muhdar dan Bey Arifin, Op.
Cit., hlm. 83.